Selamat Datang Nak..

Ramadhan hari ketujuh.
Sore menjelang berbuka puasa mentari telah condong ke barat dan tak lama akan segera bersembunyi di balik gunung Ungaran. Gunung yang menjulang dua kilometer dari atas permukaan laut ini konon adalah makam Dasamuka yang dikubur oleh Hanoman si kera putih. Sisa-sisa rona jingga mentari yang mulai memudar meninggalkan fitur logo Kamikaze menjadi arsiran tipis khas senja. Logo yang juga menghiasi gitar musisi terkenal Satriyo Yudi Wahono, kalau kalian tak mengenal nama itu maka kupastikan kau bukan Sobat Padi. Warna jingga adalah warna yang sungguh menarik perhatianku selama ini, seperti ada getaran-getaran cinta jika aku melihatnya, warna yang menancap dalam anganku akan sebuah nama yang ingin kusematkan untuk nama anakku kelak, tapi entah.

Cicitan burung Sriti bersautan dari tempat mereka bertengger di kabel-kabel listrik menambah sore ini nampak semakin syahdu. Meski kawanan burung ini sedikit kerepotan saat bertengger karena angin menerpa sisi kanan sayap mereka. Sebagian dari mereka sedikit payah namun tetap berusaha bertahan. “Apakah kalian sudah menyiapkan santap buka?” tanyaku kepada kawanan burung itu. Mereka tak menggubrisku sama sekali, mungkin karena karepotan mempertahankan hinggapnya yang mulai goyah. Saat angin kencang mereka terbang bersama membentuk pola bumerang dan kembali hinggap saat angin mulai memelan.
Continue reading Selamat Datang Nak..