Angin malam berhembus ke timur dengan irama yang tak teratur, kadang lambat kadang tergesa-gesa. Semaunya. Suaranya menjadi syahdu ketika meyeret daun anggur kering di tepi jalan kecil depan rumah. Semakin lama suara itu terdengar menjauh dan disusul dengan desiran angin yang kini melintas kisi-kisi pagar. Malam yang tenang. Aku tak sempat menengok apakah rembulan juga tersenyum malam ini.
Kaldera yang tak lagi mau menggubris siaran televisi dari modifikasi monitor komputer, menurut dia televisi ini tak menarik baik bentuk, gambar dan suaranya. Dia lebih asyik bermain dengan bonekanya. Setumpuk boneka yang tak satupun dibeli dari kantong ayahnya. Mungkin ayahnya pelit. Kaldera masih kangen dengan televisi lamanya, dia masih suka menanyakan kemana televisi itu berada. Televisi yang digondol maling beberapa waktu lalu tak membuat aku dan ibunya merasa kehilangan. Ada rasa bahagia yang diam-diam kami syukuri atas penggondolan itu. Demikianlah bahagia, bisa saja datang dengan sangat sederhana bahkan dari musibah. Melihat Kaldera yang tak suka lagi menonton televisi sudah membuatku bahagia, bahagia yang bisa kuceritakan kepada siapa saja. Ada anak 3 tahun yang tak suka menonton televisi. Sedikit aneh tapi aku bahagia melihatnya. (ya maklum karena yang ditonton cuma monitor kecil).
