Hari minggu pukul tiga sore Kaldera anakku sudah terbangun dari tidur siangnya. Meloncat dia dari kasur lalu menyongsongku di ruang tamu yang sedang asyik membaca novel. Aroma kecut dari tubuh bocah kecil ini mengusik hidungku. Namun kecut itu menjadi aroma khas yang diam-diam aku nikmati saban hari saat Kaldera menuju pelukanku.
Matanya masih agak lengket susah dibuka, tapi aku sangat mengerti ketakutannya saat bangun tak menemukan ayah disampingnya mengalahkan kerepotannya untuk membuka mata. Masih dalam pelukan yang sedikit merepotkan tangan kananku karena tangan lain memegang novel, Kaldera ingat lalu menagih janji kepadaku untuk keliling kota. Ya, sekedar keliling kota sambil bernyanyi dengan lirik yang hanya dimengerti oleh aku dan Kaldera saja, ibunya tidak.
Udara sore itu mendung tipis, matahari masih gagah meski sudah sedikit menuju barat.
“Jangan hujan..” kataku dalam hati.
Continue reading Enam Ratus Ribu
