Kau Harus Datang

“Kau harus datang”
Begitulah bunyi pesan singkat yang kuterima pagi ini. Sesaat sebelumnya aku masih meringkuk memeluk ponselku yang dingin terpapar pendingin ruangan. Bergegas aku meloncat dari tempat tidurku kusambar handuk dan segera mandi.

Gerimis mulai turun saat aku masuk ke dalam kabin pesawat yang dingin ini, bulan Maret ini semua terasa dingin. Kulihat di sisi kiri dua pramugari menjura kepada para penumpang, mengucapkan selamat pagi dan mempersilakan duduk. Aku hanya sedikit menghiraukannya, tak menjawab salam, tak ikut tersenyum. Berlalu saja aku melewati mereka dan duduk di bangkuku. Pandanganku kini pada titik-titik gerimis pada genangan air tipis di kaki garbarata yang mulai membentuk lingkaran-lingkaran gelombang semakin membesar.
Continue reading

Romantika Karet Gelang

Malam ini sebelum tidur saya tiba-tiba terusik dengan sebuah benda, karet gelang. Megapa? Begini, kemarin saya memenangkan lelang ikan koi sehingga sore tadi pergi ke penjual ikan koi untuk mengambil ikan tersebut, setelah berbincang beberapa saat kemudian ikan dikemas dalam plastik berisi air lalu dikembungkan dengan tiupan oksigen. Agar aman, bagian unjung plastik lalu diikat dengan karet gelang, penjual tak pikir panjang meraup beberapa karet gelang lalu mengikatnya, seolah karet gelang adalah tali biasa yang bisa diambil di kebun seperti tali dari bambu. Hati ini terasa teriris melihat karet gelang diperlakukan seperti ini.
Continue reading