Kau Harus Datang

“Kau harus datang”
Begitulah bunyi pesan singkat yang kuterima pagi ini. Sesaat sebelumnya aku masih meringkuk memeluk ponselku yang dingin terpapar pendingin ruangan. Bergegas aku meloncat dari tempat tidurku kusambar handuk dan segera mandi.

Gerimis mulai turun saat aku masuk ke dalam kabin pesawat yang dingin ini, bulan Maret ini semua terasa dingin. Kulihat di sisi kiri dua pramugari menjura kepada para penumpang, mengucapkan selamat pagi dan mempersilakan duduk. Aku hanya sedikit menghiraukannya, tak menjawab salam, tak ikut tersenyum. Berlalu saja aku melewati mereka dan duduk di bangkuku. Pandanganku kini pada titik-titik gerimis pada genangan air tipis di kaki garbarata yang mulai membentuk lingkaran-lingkaran gelombang semakin membesar.
Continue reading

Romantika Karet Gelang

Malam ini sebelum tidur saya tiba-tiba terusik dengan sebuah benda, karet gelang. Megapa? Begini, kemarin saya memenangkan lelang ikan koi sehingga sore tadi pergi ke penjual ikan koi untuk mengambil ikan tersebut, setelah berbincang beberapa saat kemudian ikan dikemas dalam plastik berisi air lalu dikembungkan dengan tiupan oksigen. Agar aman, bagian unjung plastik lalu diikat dengan karet gelang, penjual tak pikir panjang meraup beberapa karet gelang lalu mengikatnya, seolah karet gelang adalah tali biasa yang bisa diambil di kebun seperti tali dari bambu. Hati ini terasa teriris melihat karet gelang diperlakukan seperti ini.
Continue reading

Selamat Datang Nak..

Ramadhan hari ketujuh.
Sore menjelang berbuka puasa mentari telah condong ke barat dan tak lama akan segera bersembunyi di balik gunung Ungaran. Gunung yang menjulang dua kilometer dari atas permukaan laut ini konon adalah makam Dasamuka yang dikubur oleh Hanoman si kera putih. Sisa-sisa rona jingga mentari yang mulai memudar meninggalkan fitur logo Kamikaze menjadi arsiran tipis khas senja. Logo yang juga menghiasi gitar musisi terkenal Satriyo Yudi Wahono, kalau kalian tak mengenal nama itu maka kupastikan kau bukan Sobat Padi. Warna jingga adalah warna yang sungguh menarik perhatianku selama ini, seperti ada getaran-getaran cinta jika aku melihatnya, warna yang menancap dalam anganku akan sebuah nama yang ingin kusematkan untuk nama anakku kelak, tapi entah.

Cicitan burung Sriti bersautan dari tempat mereka bertengger di kabel-kabel listrik menambah sore ini nampak semakin syahdu. Meski kawanan burung ini sedikit kerepotan saat bertengger karena angin menerpa sisi kanan sayap mereka. Sebagian dari mereka sedikit payah namun tetap berusaha bertahan. “Apakah kalian sudah menyiapkan santap buka?” tanyaku kepada kawanan burung itu. Mereka tak menggubrisku sama sekali, mungkin karena karepotan mempertahankan hinggapnya yang mulai goyah. Saat angin kencang mereka terbang bersama membentuk pola bumerang dan kembali hinggap saat angin mulai memelan.
Continue reading